Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

17 February 2017

Kisah Cinta Sejati Widyawati dan Sophan Sophian yang Tetap Abadi

Menarik mengikuti kisah cinta Widyawati dan Sopan Sophian. Dipertemukan lewat film Pengantin Remaja, aktris senior berusia 66 tahun itu tetap merawat cinta sejatinya hingga kini. 

Widyawati. Foto Net

Tak ada yang bisa menggantikan persemayam Sophan Sophiaan di hatinya. Aktor asal Makassar, Sulawesi Selatan itu pergi selama-lamanya pada 17 Mei 2008 dalam sebuah kecelakaan.

Widyati pun bercerita tentang keputusannya yang terjun di dunia peran. "Awalnya saya nggak mau main film itu," kata Widyawati mengenang perkenalannya dengan suami.

Namun, setelah "dibujuk" sang ibu yang lebih dahulu bertemu dengan Sophan, Widyawati akhirnya luluh. 

"Jujur, begitu melihat, wow, ganteng," ujar Widyawati saat ditemui di rumahnya yang asri, kawasan Bintaro, Tangerang Selatan (10/2).

16 February 2017

Pesantren Ath Thaariq Berbasis Ekologi, Belajar dan Bertani

Sudah satu dekade ini Nisya Saadah Wargadipura dan Ibang Lukman Nurdin memberdayakan petani di Tanah Pasundan. Uniknya, cara yang dipakai, antara lain, dengan mendirikan pesantren yang mengedepankan aktivitas pertanian sebagai basis pendidikannya.

Ibang dan Nissa bersama para santri di lahan perkebunan di kompleks Pesantren Ath Thaariq, Garut. (Sahrul Yunizar/Jawa Pos/JPNN.com)
Lepas petang, kumandang azan sayup-sayup terdengar di Pesantren Ath Thaariq di Kampung Cimurugul, Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Para santri di pesantren yang terletak di tengah hamparan sawah itu mulai mengisi saf-saf masjid.

Santri tetap di pesantren tersebut memang tidak banyak. Hanya 30 orang yang menginap. ’’Tidak boleh lebih,’’ ucap Nisya Saadah Wargadipura saat ditemui Jawa Pos, Minggu (29/1).

Perempuan yang akrab dipanggil Nissa itu adalah istri Ibang Lukman Nurdin. Keduanya merupakan pendiri Pesantren Ath Thaariq, pesantren berbasis ekologi yang berdiri sejak 2008.

Selain mengaji dan belajar bertani, para santri di Ath Thaariq setiap hari menjalani pendidikan formal di sekolah umum dan universitas. Ada yang masih SMP, SMA, dan bahkan mahasiswa yang mondok di pesantren itu. Namun, pada Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional, mereka full di pesantren untuk berkebun dan beternak.

Sejatinya, kompleks Pesantren Ath Thaariq tidak begitu luas. Lahannya hanya 8.500 meter persegi. Meski begitu, para santrinya justru bisa berfokus untuk menyerap banyak ilmu Alquran dan ilmu terapan.

Dengan luas terbatas, Nissa bersama Ibang, sang suami, membagi lahan pesantren dalam dua zona. Yakni, zona pertanian dan zona peternakan. Di dua zona tersebut ada area untuk beternak ikan dan unggas. Ada pula tempat pembibitan dan area untuk kebutuhan pertanian lain. Lalu, ada bangunan utama yang dijadikan tempat tinggal keluarga Nissa-Ibang sekaligus untuk tempat tidur bagi para santri.

20 Tips Mengantarkan Anak Menuju Kesuksesan

Ustaz Bendri Jaisyurrahman berbagi ilmu mendidik anak. Pria yang kaya dengan pengetahuan parenting itu berbicara mengenai kiat-kiat yang harus dilakukan orang tua mengantarkan anaknya untuk bisa mencapai kesuksesan. 

Seperti apa kiatnya? Berikut 20 tips yang harus dilakukan:

1. Perbaikan kualitas generasi selayaknya dimulai dengan kebiasaan bangun di pagi hari. Sebab generasi unggul bermula dari pagi yang masygul (sibuk)

2. Kebiasaan bangun pagi hendaklah dimulai dari usia dini. Peran Ayah amat dinanti. Ayah yang peduli tak abai dalam urusan bangun pagi buah hati

3. Jika anak terbiasa bangun siang. Maka keberkahan hidup melayang. Aktivitas ruhani menjadi jarang. Perilaku menjadi jalang

4. Mulailah dengan malam yang berkualitas. Anak tidak terjaga di ambang batas. Harus buat peraturan tegas. Kapan terjaga dan kapan pulas

5. Sehabis isya jangan ada aktivitas fisik berlebihan. Upayakan aktivitas yang menenangkan. Membaca atau bercerita yang berkesan

6. Biasakan berbagi perasaan. Mulai dengan cerita aktivitas harian. Evaluasi jika ada yang tidak berkenan. Sekaligus sarana pengajaran

7. Buat kesepakatan bangun jam berapa. Lantas anak mau dibangunkan bagaimana. Jadikan ini sebagai modal membangunkan di pagi harinya. Tutuplah aktivitas malam dengan dengarkan tilawah, agar anak tidur membawa kalimat Allah

8. Pemberi Rahmah. Terekam dalam memorinya sepanjang hayat

9. Pagi pun datang. Jalankan kesepakatan yang dibuat sebelum tidur menjelang. Bangunkan anak penuh kasih sayang. Bangunkan dengan cara yg ia bilang

10 February 2017

Lagu Sepohon Kayu Versi Bugis yang Menggugah Hati Untuk Salat


Pembaca kami yang setia. Untuk inspirasi kali ini, akan disajikan lagu Sepohon Kayu versi Bugis.

Lagu ini sempat dipopulerkan oleh almarhum Ustaz Jeffry Al Buchori atau yang karib disapa Uje. Begitu menyentuhnya tembang ini sehingga memunculkan banyak versi. 

Syair lagu ini mengingatkan kita akan kematian dan pentingnya salat bagi umat Islam. Karya versi bugis dipersembahkan Fire Starting Automobil.


Bagi yang tidak mengerti bahasa Bugis, tak perlu khawatir. Karena dalam vidoenya yang menampilkan gambar masjid-masjid di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

“Mauni sogi loppoki….
Narekko de’ massempajang, aga gunana….,”

Begitulah salah satu penggalannya liriknya. Selamat senikmati dan semoga menggugah hati kita untuk tetap menunaikan salat lima waktu. Amin.

08 February 2017

Bagian III: Perjuangan Gadis Cantik Miskin Mengejar Impian

Setelah lulus Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah, Riwa bekerja di almamaternya.




Kondisi rumah orang tua Nur Riwayati di Banyubiru, Semarang, Jawa Tengah. Foto: Adennyar Wycaksono/Radar Semarang/JPNN.com



Dia diangkat menjadi staf front desk Rektor UNNES sekarang, Dr Fathur Rokhman MHum.

Setelah bekerja, Riwa kini bisa sedikit mengangkat derajat keluarganya untuk lepas dari jerat kemiskinan.

Saat ini, Riwa terus berjuang untuk meneruskan studi strata 2 (S2) dan berusaha mendapatkan beasiswa.

”Harapannya pemerintah lebih memperhatikan siswa yang tidak mampu, tak sedikit siswa miskin menginginkan pendidikan yang layak. Apalagi menurut saya dengan pendidikan bisa memutus mata rantai kemiskinan,” ujar gadis yang mengaku masih jomblo ini.

Riwa pun berhasil membuktikan kepada warga di desanya bahwa kemiskinan tidak harus hilang semangat untuk meraih cita-cita.

Selain itu, menikah muda sudah bukan zamannya lagi.


”Saya coba membuktikan dan mengedukasi warga di desa saya untuk tidak menikah muda dan tetap menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Kemiskinan bukan halangan, jika memang ada niat dan kemauan, pasti semua kendala bisa teratasi,” kata dara berhijab yang lulus dari UNNES pada 2015 dengan IPK 3,63 ini. 

Selamat ya Mbak!!!!!

(Tulis 3/3-Habis)

Bagian II: Perjuangan Gadis Cantik Miskin Mengejar Impian

Tiga kali Riwa mengirim surat ke Rektor UNNES kala itu. Hingga akhirnya surat yang ketiga mendapatkan respons. Dia diberi beasiswa bidik misi dan kuliah di UNNES pada 2011.

Lihat:

Bagian I: Perjuangan Gadis Cantik Miskin Mengejar Impian


Sebelumnya, Riwa nekat pergi dari rumah untuk melihat hasil pengumuman dengan bekal uang Rp 50 ribu pinjam teman.

Dia mengaku saat itu sempat dicibir oleh tetangga dan saudaranya.

”Meh sekolah duwur yo nggo opo? Wong wedok paling mung macak, manak karo masak, tibone yo podo (Mau sekolah tinggi-tinggi buat apa, wanita paling kerjaannya hanya merias, melahirkan dan memasak atau mengurus suami. Jatuhnya juga sama, Red),” katanya.

”Ada juga yang bilang, saya nanti jadi perawan tua, dan tanggapan miring lainnya. Ya, meski banyak yang mencibir, saya bersyukur bisa kuliah. Bagi saya dengan pendidikan bisa memutus rantai kemiskinan,” sambungnya.

Setelah menjadi mahasiswi UNNES, Riwa harus hidup prihatin. Sebab, untuk mendapatkan uang untuk makan sehari-hari, ia harus membanting tulang dengan menjadi buruh cuci pakaian milik teman kosnya.

TEKAD BAJA: Nur Riwayati, dara dari keluarga miskin yang punya semangat tinggi dalam mengejar cita-cita. Foto: Adennya Wycaksono/Radar Semarang

”Uang buat makan atau uang saku saya dapatkan dengan mencuci pakaian teman. Pernah juga mijitin teman kos, kadang dikasih uang, kadang juga hanya dibeliin makan,” kenangnya pilu.

Riwa yang punya kemampuan menyanyi keroncong dan sinden, pernah ikut grup campur sari Dewan Kesenian Kabupaten Semarang. Dia beberapa kali mendapatkan job menyanyi.

Sekali menyanyi, Riwa mendapatkan bayaran sebesar Rp 100 ribu yang langsung diberikan kepada ibunya. ”Kalau dapat bayaran, saya kasihkan ke orang tua agar adik-adik saya bisa makan. Intinya buat menyambung hidup keluarga,” katanya.

Saat kuliah, Riwa terus mengembangkan kemampuannya di dunia tarik suara. Dia beberapa kali tampil menyanyi.

Riwa juga sempat ikut dalam kegiatan forum beasiswa nasional dan bertemu Susilo Bambang Yudhoyono semasa masih menjadi Presiden RI.

”Ketemu beliau (SBY) bangga banget, seakan perjuangan saya dulu lunas, saya juga diberi motivasi untuk terus belajar dan berusaha walaupun hidup dalam keterbatasan,” ucapnya.

(Bersambung)

Bagian I: Perjuangan Gadis Cantik Miskin Mengejar Impian

Kisah hidup dara bernama Nur Riwayati bisa jadi inspirasi. Semangatnya mengejar cita-cita tak pernah surut meski berasal dari keluarga miskin. Kini, dia sudah menyandang gelar sarjana ekonomi dan bekerja di Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah.


Kondisi rumah orang tua Nur Riwayati di Banyubiru, Kabupaten Semarang. Foto: Adennyar Wycaksono/Radar Semarang/JPNN.com

Kondisi rumah orang tua Nur Riwayati di Dusun Trowangi, Desa Tegaron, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang cukup menggambarkan betapa miskinnya keluarga gadis yang akrab dipanggil dengan nama Riwa itu. Rumah sederhana itu hanya berdinding kayu dan bambu tua dengan lantai tanah.

Di sejumlah dinding harus ditopang bambu karena bangunannya nyaris ambruk dimakan usia. Kondisi dapurnya juga amat sederhana. Untuk memasak menggunakan tungku tanah lihat dengan bahan kayu bakar.

Namun, kondisi itu tak menyurutkan Riwa untuk menuntut ilmu hingga perguruan tinggi. Padahal secara logika, sulit bagi Riwa untuk bisa menikmati bangku perguruan tinggi. Sebab, untuk makan sehari-hari saja susah.

Orang tuanya bekerja serabutan. Bahkan Riwa harus ikut membanting tulang agar bisa mendapatkan sesuap nasi.

”Sejak kecil saya sudah membantu orang tua bekerja di sawah untuk bisa makan. Bahkan setiap pulang sekolah, saya harus mencari rumput untuk memberi makan ternak di mana ayah dan ibu saya bekerja,” kenang gadis kelahiran Kabupaten Semarang, 15 Oktober 1993 ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hidup dalam kemiskinan bukan berarti membuat Riwa dan keluarganya pasrah. Untuk biaya sekolah, Riwa selalu mencari beasiswa pendidikan agar cita-citanya untuk tetap sekolah terwujud.

Cobaan dialami putri pertama dari tiga bersaudara ini saat tiba-tiba sang ayah meninggal dunia karena sakit.

”Saat itu, saya masih sekolah di SMK Diponegoro Salatiga. Setelah lulus, praktis saya harus mengubur impian bisa melanjutkan kuliah karena tidak ada biaya,” kata putri pasangan almarhum Subandi dan Suryanti ini.

Di saat itulah Riwa dipaksa untuk menikah dengan cara dijodohkan. Kebetulan Riwa memiliki paras cantik hingga banyak pria yang menaksirnya.

Di desanya, menikah dalam usia muda dianggap wajar. Apalagi masyarakat di desanya masih menganggap pendidikan bagi kaum hawa tidaklah penting. Karena ujung-ujungnya nantinya hanya mengurus anak dan melayani suami.

”Setelah lulus SMK, karena saya miskin, saya mau dijodohkan oleh saudara saya. Ibu saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena hanya buruh serabutan, tapi saya mencoba berontak sampai kabur dari rumah karena ingin kuliah,” kenangnya.

Riwa yang punya prestasi akademik di sekolahnya sempat mengikuti ujian masuk Universitas Negeri Semarang (UNNES) lewat jalur undangan, SNMPTN, dan SBMPTN. Namun, dia selalu gagal.

Hingga akhirnya Riwa mencoba ikut ujian masuk melalui Seleksi Mandiri UNNES. Dengan bekal uang Rp 50 ribu, ia pergi ke Semarang untuk ikut ujian. Dia juga membawa sepucuk surat yang ditujukan kepada Rektor UNNES saat itu, Prof Dr Sudiono Sastroatmojo M.Si.

”Saya bawa surat yang isinya curhatan kenapa anak kurang mampu dan miskin susah kuliah karena biaya yang sangat mahal. Apakah anak-anak miskin harus menelan pil pahit dan menghadapi perjodohan serta menikah muda dengan orang yang tidak dikenal, karena tidak diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan,” tuturnya sambil terisak.


(Bersambung)

07 February 2017

Buya Syafii Maarif, Sosok yang Dikecam dan Tampilan Kesederhanaan

Buya Ahmad Syafii Maarif kembali menjadi perhatian netizen. Fokusnya kini bukan lagi karena dianggap membela Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dituding menistakan agama, melainkan kesederhanaanya.

Pria kelahiran Sumpurkudus, Sijunjung, Sumatera Barat pada 31 Mei 1935 silam itu nampak mengayuh sepeda dalam sebuah foto.

Buya Safii Maarif bersepeda. Foto Facebook.

Meski usianya yang sudah menginjak 81 tahun, terlihat dalam gambar, Buya Syafii masih kuat.

Tak jelas kapan momen itu diabadikan. Tetapi di foto ada watermark ratsani.wordress.com.

Di akun Facebook Sekjen Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Raja Juli Antoni terpampang foto tersebut dengan keterangan:

"Seorang penguntit mencuri foto teladan kami, teladan bangsa. Sayang sabagian masih menghina dan menistanya. Sehatlah terus, Buya!

Dalam foto ini seorang lelaki tua mengayuh sepeda di satu jalan sepi di Yogyakarta. Ia berbaju batik lengan panjang, sisiran rapi, dan di setang sepedanya ada tergantung kantong plastik putih berisi buku.

Lelaki tua yang mengayuh sepeda itu bernama Buya Sjafii Maarif: seorang profesor, mantan Ketua Umum Muhammadiyah, penerima Ramon Magsaysay Award, dan beberapa kali menolak tawaran menjadi komisaris di berbagai perusahaan raksasa milik negara.

Contoh seorang manusia yang sudah selesai dgn dirinya sendiri..

Semoga tetap sehat dan panjang umur, Buya!" tulis Antoni. 

Beragam reaksi pun berdatangan, tapi umumnya mendoakan Buya Syafii sehat selalu.

Ada yang menganggapnya biasa, tapi kemudian ditimpal oleh komentar yang lain.

"Ya memamg biasa saja, tapi saya yakin tak mudah memilih membiasakan diri jadi biasa-biasa saja," kata pemilik akun Yuli Zuardi Rais.

Buya Syafii merupakan ilmuwan dan dianggap sebagai cendekiawan muslim. Selain pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah dia juga mendirikan Maarif Institute.

Saat di awal hebohnya omongan Ahok dengan surah Almaidah ayat 51, Buya Syafii mengambil posisi yang seolah-seolah berseberangan sehingga menjadi objek kecaman. (jpnn)

Misteri Kematian Herni, Jenazah yang Dinikahi

Keputusan Herni (bukan Erni seperti yang diberitakan sebelumnya) mengambil jalan pintas mengakhiri hidupnya yang tragis masih misteri. Semuanya menyayangkan, apalagi sang pacar, Ahmad Haidir. 

Ahmad Haidir tak tahu alasan sang kekasih, Herni mengakhiri hidup dengan cara tragis. Suasana di kediaman korban pada Jumat, 2 Februari yang diklaim pihak keluarga hanya untuk mengurus jenazah. Foto: FACEBOOK

Ibu Herni, Wati juga tak mengetahui penyebabnya. Yang pastinya, korban meminum racun rumput sebelum mengembuskan napas terakhir.

“Saat dibawa ke Puskesmas dia hanya mengucap maaf telah berbuat hilaf. Setelah itu dia tak pernah lagi sadarkan diri hingga meninggal,” kata sang ibu, Wati kepada FAJAR (Jawa Pos Group),  Senin (6/2/2015). 

Wati mengaku tak habis pikir mengapa putri keduanya itu memutuskan memilih cara tersebut untuk mengakhiri hidupnya.

Bukti Janji, Jadi Mayat pun Tetap Dinikahi

Ini bukan cerita dalam novel, dongeng atau yang ada dalam telenovela. Cinta suci itu pun tetap terikat walau kekasihnya kini terbujur kaku.

Ahmad Haidir membuktikan janjinya menikahi Erni, meski tak bernyawa lagi. “Dia istri saya, dan akan selamanya menjadi istri saya.”

Kalimat ini diungkapkan Edi, sapaan Ahmad Haidir, via telepon, Minggu, 5 Februari, saat menceritakan kisah cintanya yang tragis kepada FAJAR (Jawa Pos Group).

Mimpi indah yang sudah direncanakan selama dua tahun, harus berakhir.

Ciuman terakhir Ahmad Haidir kepada kekasihnya yang terbujur kaku. Foto Fajar/JPNN.com

Tuhan berkehendak lain. Pesta pernikahan yang sudah direncanakan pada Oktober mendatang, batal terlaksana.

Erni memilih mengakhiri hidupnya dengan racun rumput, meninggalkan pria yang begitu mencintainya.

Perjuangan Edi mendapatkan cinta Erni dan restu keluarganya, memang penuh tantangan.

Pemuda asal Kepulauan Nias, Sumatera Utara ini, menemukan cinta sejatinya di Parepare, Sulsel, dua tahun lalu.

Dia bertemu Erni yang waktu itu masih berstatus mahasiswi STIKES Baramuli.

Edi yang bekerja di sebuah koperasi di Parepare, langsung jatuh hati. Butuh waktu hingga akhirnya Erni mau menerima cintanya.

Keduanya memutuskan menjalin hubungan serius. Rencana pernikahan perlahan disusun.

Bukan hanya perbedaan budaya yang harus disatukan. Perbedaan keyakinan juga menjadi rintangan.

Hingga akhirnya Edi, dengan seizin orang tuanya di Nias, memutuskan menjadi mualaf. Makin muluslah rencana memperistri Erni. Waktunya Oktober nanti, maharnya Rp 40 juta.

Edi yang kini bekerja di Enrekang, tak sabar menghitung hari. Namun, sebuah telepon dari Erni, Rabu, 1 Februari, bak petir di siang bolong.

“Dia bilang ingin bunuh diri dengan meminum racun rumput,” ungkap Edi menceritakan pembicaraan dengan calon istrinya hari itu.

Edi langsung menghubungi Wati, ibu Erni, calon mertuanya. Setelah itu dia memacu motornya ke Barru.

Jarak 181 km ditempuhnya kurang dari empat jam. Berharap dia masih bisa menyelamatkan nyawa Erni.

Di Barru, mendengar laporan Edi, Wati bergegas ke kamar Erni. Ibu tiga anak ini panik mendapati putrinya sudah lemas. Erni kemudian dibawa ke Puskesmas Madello.

Namun kondisinya kian memburuk, hingga harus dirujuk ke Rumah Sakit Umum Parepare.

Edi masih bisa menemui Erni yang kritis. Dengan setia dia mendampingi calon istrinya.

Membersihkan tubuh Erni setiap kali muntah hebat. Membelai rambutnya dan membisikkan kalimat semangat agar kembali pulih.

Hingga akhirnya, Kamis dinihari, 2 Februari, wanita yang baru saja menyelesaikan kuliahnya itu mengembuskan napas terakhir.

Tangis keluarganya pecah. Edi seolah tak percaya dengan peristiwa tersebut.

“Edi begitu mencintai anak saya. Dia seolah tak melepas pelukan meski telah menjadi mayat,” tutur Wati.

“Ini kehendak Tuhan. Kami sudah mengikhlaskan kepergiannya. Saya juga sudah meminta Edi melupakan anak saya,” lanjutnya.

Orang tua Erni dibuat terkejut dengan jawaban Edi. Dan tak bisa berbuat apa-apa selain mengiyakan permintaan calon menantunya itu.

“Saya sangat mencintai Erni. Niat saya tak berubah, akan tetap menikah dengannya meski tak bernyawa lagi,” kata Edi.

Setelah berdiskusi dengan keluarga, pernikahan akhirnya digelar, Jumat siang, 3 Februari.

Lokasinya di rumah duka, tempat jasad Erni disemayamkan di Desa Lampoko, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, Sulsel.

Imam masjid di kampung itu menjadi wali nikah. Disaksikan keluarga yang tak bisa menahan kesedihan.

Hari itu, Edi terlihat gagah. Pakaiannya rapi, lengan panjang warna gelap. Kopiah hitam bertengger di kepalanya.

Di sampingnya, mayat Erni yang sudah dibungkus kain kafan, terbujur kaku.

Semua berlangsung hikmat dengan derai air mata. Hingga saksi menyatakan “sah” resmilah keduanya menjadi suami istri.

Meski beberapa saat setelah itu, Erni diantar ke peristirahatan terakhir oleh keluarga dan sang suami, Ahmad Haidir.

Ilmuwan Cilik Pencipta Pendeteksi Jarak Aman Nonton TV

Anak-anak tidak hanya perlu tontonan sehat di TV. Cara nonton yang sehat pun mereka butuhkan. Dua murid SD Muhammadiyah Manyar ini menciptakan alat pendeteksi jarak menonton TV yang sehat. Namanya Detektif Jamat.

Alat dengan dua lensa berbentuk kotak hitam itu mengeluarkan bunyi tit…tit…tit. Suaranya muncul dari sebelah televisi di ruang kepala sekolah. Beberapa kabel terhubung dengan arduino di belakang speaker. Dua siswa, Nasya Nadhira dan Faras Syakira, lantas mendekat. Suara tit... tit...tit terus terdengar. Bunyi tersebut tiba-tiba hilang ketika mereka menjauh sekitar 1,5 meter.

’’Ini berarti jarak tonton sudah aman,’’ ujar Nasya yang diiyakan Faras.

Dua siswi SD Muhammadiyah Manyar itu adalah pencipta detektor jarak aman untuk menonton TV. Mereka tengah menguji fungsi detektor tersebut. Mereka menamai alat itu Detektif Jamat. Artinya, Pendeteksi Jarak Aman Nonton Televisi. Manfaatnya besar.



Ilmuwan Cilik: Nasya (kiri) dan Faras menunjukkan Detektif Jamat yang diuji coba. (Adi Wijaya/Jawa Pos/JawaPos.com)

Nasya dan Faras berharap tidak ada lagi anak-anak yang memakai kacamata karena terlalu sering dan dekat saat nonton TV.

"Sekarang banyak anak yang pakai kacamata, termasuk saya,’’ kata Nasya yang hobi membaca itu.

Nasya bercerita, dirinya melakukan survei bersama Faras, teman sekelasnya. Dari 475 siswa yang disurvei, ada sekitar 50 anak yang mengaku berkacamata. Penyebabnya hampir seragam. ’’Rata-rata terlalu dekat kalau nonton TV (televisi),’’ ungkap bocah 11 tahun tersebut.

Jarak aman untuk nonton TV, lanjut Nasya, rata-rata 1,3 meter. Jarak yang terlalu dekat berisiko merusak mata. ’’Sumbernya, banyak artikel terkait jarak aman nonton televisi,’’ jelas putri pasangan Haryanto dan Lilik Anifa itu.

Nasya pun resah. Dia terdorong untuk membuat alat yang bisa mendeteksi jarak aman menonton televisi. Bersama Faras yang sama-sama kelas V, dia mencari berbagai referensi. Mulai bertanya ke banyak orang hingga belajar dari artikel.

Sebelumnya, Nasya dan Faras mengatakan tidak banyak tahu tentang elektronika. Keduanya memberanikan diri bertanya kepada guru pembina ekstrakurikuler (ekskul) mekatronikon.

’’Butuh waktu dua bulan belajar (elektro, Red). Mulai belajar teori hingga proses merakit,’’ ungkapnya.

Banyak hal yang ditemui saat menciptakan alat itu. Mulai pernah korsleting hingga alat tidak berfungsi. Setelah melakukan eksperimen berkali-kali, alat tersebut siap dirakit. Butuh dua pekan lagi untuk uji coba. Hingga akhirnya, alat yang dinamai Detektif Jamat itu siap digunakan.

Detektif Jamat dilengkapi dua speaker kecil yang tersambung dengan arduino (pengendali mikro) dan adapter. Alat tersebut bisa memancarkan gelombang ultrasonik ke dahi. Gelombang lantas dipancarkan kembali ke alat. Dengan begitu, alat akan berbunyi ketika didekati pada jarak tertentu.

Untuk mengontrol jarak aman mata, alat itu diletakkan di sebelah televisi. Bisa di sisi kanan atau kiri. ’’Sudah diatur untuk jarak aman 1,3 meter. Kalau terlalu dekat, Jamat mengeluarkan bunyi peringatan. Jadi harus mundur,’’ papar Nasya.

Faras sangat ingin merakit lebih banyak lagi alat serupa. Tujuannya, teman-temannya bisa memanfaatkan alat tesebut untuk menjaga jarak aman ketika nonton televisi. ’’Jadi, mata tidak sampai rusak,’’ ucapnya.

Fadholi Aziz, koordinator Bina Prestasi SD Muhammadiyah Manyar, membenarkan bahwa dua muridnya itu memang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka sangat aktif di kelas. Terutama yang berkaitan dengan sains. ’’Suka tanya,’’ tutur lelaki yang juga guru IPA itu.

Aziz yang juga pengajar di kelas V tersebut menambahkan, Jamat akan dilombakan di event nasional. Yaitu, National Young Invertor Award 2017 pada September mendatang.

’’Yang pasti, sekolah mendukung mereka untuk berprestasi,’’ jelasnya.